Chapter 1
Seperti biasa Hiruya berdiam diri di atap seolah sambil membaringkan badannya. Melihat awan Seperti biasa Hiruya berdiam diri di atap seolah sambil membaringkan badannya. Melihat awan yang tertiup angin di langit. Mendengar kicauan burung-burung yang merdu. Terlintas didalam pikirannya, andai aku menjadi burung yang terbang dengan bebas.
Terdengar dari kejauhan suara langkah kaki seseorang menuju atap sekolah, menghampiri dirinya.
“ Hei Hiruya! Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau ada disini.”
Hiruya hanya menoleh melihat temannya Kiteru yang mengoceh sendiri.
“Sedang apa kau disini? Dan, sejak kapan kau diam disini?”
“Memandang awan. Sejak kau asyik melamun dikelas seorang diri.”
“Haa!! Kau tak ajak-ajak datang kesini. Eh ayo pulang, ini sudah jam pulang.”
Hiruya hanya mengganggukan kepalanya lalu mengikuti langkah Kiteru, meninggalkan tempat itu.
Didalam perjalanan menuju, rumah Kiteru mengajak Hiruya untuk mampir kesupermarket, satu-satunya tempat yang menjual makanan bermerek ‘Oshi’. Kiteru sangat menyukai Oshi karena makanan paling enak.
Tanpa memberitahu terlebih dahulu, Kiteru langsung menarik lengan baju Hiruya.
“Hei! Bajuku robek!”
Gerutu Hiruya menyingkirkan tangan Kiteru dari bajunya. Kiteru yang bersemangat ingin membeli Oshi, tak menghiraukan gerutuan Hiruya yang menurutnya itu sangat tidak penting.
“Tinggal satu lagi! Wahh!"
Teriakan Kiteru yang aneh membuat orang menjadi penasaran dan memandang Kiteru dengan pandangan yang aneh. Hiruya yang malu akan kelakuan Kiteru yang konyol membuat dia pergi mencari barang yang mungkin dia butuhkan.
Ketika Kiteru akan mengambil Oshi, tiba-tiba seorang gadis mengambilnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Hei Nona, itu Oshi punyaku! Jangan kau ambil seenaknya dong”
“Siapa yang cepat dia dapat1 kau lambat sih!”
“Aku yang lebih dulu melihatnya, jadi aku yang berhak mendapatkannya”
Gadis itu hanya bersiul-siul tak mendengarkan omelan Kiteru yang tiada hentinya.
“Berisik, apa kau bisa diam? Ini supermarket, tempat umum. Dasar bodoh!”
“Dengarkan kata-kata temanmu itu. Teman yang so cool”
“Siapa kau? Beraninya mengataiku seperti itu”
“Memang benar kan? Kau berperilaku sok cool begitu. Terlihat dari wajahmu dan matamu bahwa kau orang yang sok cool”
“Aght! Berisik kau! Ayo Kiteru kita pulang”
Dengan perasaan yang sedih dan mata yang sudah berkaca-kaca berjalan mengikuti Hiruya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar