Selasa, 07 Juni 2011

Summer Sakura (Chapter 4)

Chapter 4
            Hari-hari berlalu tanpa adanya sosok Hanako disekolah. Hari Hiruya pun sunyi, kembali menjadi Hiruya yang pendiam dan selalu menyendiri di atap sekolah. Melihat awan selalu mengikuti arah angin dibawah pohon sakura.
            Sepulang sekolah Hiruya tak pulang, melainkan pergi kerumah Hanako. Setiba disana, seseorang yang pantas disebut ibu membukakan pintu, menyambut kedatangan Hiruya. Tibalah saatnya Hiruya bertanya.
“Maaf tante sebelumnya saya telah merepotkan tante”
“Tak apa-apa, anggaplah rumah sendiri”
“Maksud kedatangaku kemari ingin bertemu dengan Hanako”
            Mendengar maksud kedatangan Hiruya tiba-tiba wajah sang ibu berubah menjadi sedih.
“Kau yakin ingin bertemu? Ayo ikut aku”
            Hiruya mengikuti langkahnya. Melewati lantai-lantai yang berwarna putih bersih. Hingga tiba disebuah ruangan, tepatnya kamar Hanako. Saat Hiruya memasuki kamar Hanako, dia tercengang kaget. Tak percaya apa yang sedang dilihatnya.
“Hanako. Dian kenapa?”
“Hiruya, ini hasil pemeriksaanya”
            Hasil pemeriksaan Hanako ada ditangan Hiruya. Saat membaca, tangannya gemetar ketakutan. Tak percaya dengan hasil yang sedang dipegangnya.
“Sejak seminggu yang lalu, keadaannya semakin parah. Terkadang dia memanggil namau. Dia sedang membutuhkanmu, dia ingin kau ada untuknya”
“Aku akan menjaganya”
            Dengan sebuah anggukan, ibu Hanako pergi meninggalkan mereka berdua. Hiruya merawat Hanako dengan penuh kasih sayang, menjaga Hanako dan berusaha agar Hanakocepat bangun dari tidur panjangnya. Berminggu-minggu Hanako tak sadar juga, Hiruya mencoba untuk membangunkannya.
“Hanako, cepat bangun. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Aku sedih bila kau terus begini. Ayo bangun, kita bermain lagi ditaman. Sudah lama kita tak tidur bersama di bawah pohon sakura”
            Tak ada perubahan dalam diri Hanako saat ini. Tetap diam membisu berbaring disebuah ranjang. Hari berganti, Hiruya tetap menyemangati Hanako. Walau tak ada perubahan sedikit pun, tapi Hiruya percaya bahwa satu waktu nanti Hanako pasti sadar.
“Hanako, aku membeli sesuatu untukmu. Aku belikan cincin untukmu. Bentuknya bulan dan bintang. Pasti kau suka ya kan? Hanako kapan kau sadar? Aku merindukanmu, aku tak mau kau terus begini. Kenapa kau tak cerita padaku tentang semua ini. Selama ini aku khawatir kepadamu. Kita sudah saling berjanji bukan? Bahwa tidak ada yang menyembunykan sesuatu diantara kita. Hanako, andai kau tau bahwa aku sangat menyayangimu. Aku menyayangimu bukan sekedar sahabat , tapi lebih dari itu. Aku mencintaimu.”
            Saat Hiruya bangun dari duduknya dan membalikkan badan, tiba-tiba seseorang berbicara cukup keras.
“Aku juga mencintaimu”
Hiruya terkejut melihat Hanako sadar dan mengetahui kalau dirinya mencintainya. Hati senang sekaligus takut, takut karena Hanako tau perasaannya.
“Maaf”
“.....”
“Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin membuat kau khawatir. Aku tak ingin kau sedih. Maaf aku tak jujur padamu tentang semua ini. Aku terlalu takut untuk kehilanganmu”
            Ingin menangis, pedih, sakit itulah yang dirasakan Hiruya. Tapi Hiruya tetap menutupi semua rasa ini dari Hanako. Hiruya memeluk hangat Hanako yang sedang menahan air mata.
“Kau mau kan memaafkan, Hiruya?”
“Sudahlah jangan kau pikirkan semua ini. Jika kau ingin menagis, menagislah jangan kau tahan. Menangis sepuas yang kau mau jika itu membuat kau merasa lebih baik”
            Basahlah pipi Hanako, air mata telah membanjiri pipi sang bidadari kecil itu. Dipeluknya  tubuh Hiruya hingga perasaan Hanako tenang dan kembali senang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar