Selasa, 07 Juni 2011

Summer Sakura (Chapter 2)

Chapter 2
“Ting! Tong!”
“Hooaamm! Aki ingin tidur,ngantuk sekali”
“Tidur saja jika kau ingin dihukum Sanaha-sensei”
            Sementara itu Sanaha-sensei masuk kelas lalu mengumumkan sesuatu yang penting, bahwa dikelas 208 (kelas tempat Hiruya dan Kiteru) ada seorang siswi baru yang polos dan imut. Sanaha-sensei mempersilakan siswi baru itu untuk memperkenalkan diri.
“Hai, namaku Hanak Yurami. Aku siswi pindahan dari sekolah Heido. Terimakasih. Mohon kerja samanya.”
            Sambil tersenyum, Hanako melihat seluruh isi kelas. Pandangannya terhenti ketika melihat wajah Hiruya.
“Aght! Kau kan yang kemarin disupermarket. Cwo sok cool yang sombong itu kan?”
“Kau bicara pada siapa? Aku tak mengenal mu”
            Dengan wajah kesal, Hanako menghampiri tempat duduknya tepat disebelah Hiruya.
“Hei kau cwo sok cool, mohon kerja samanya”
“Tidak mau! Aku tidak mau bekerja sama dengan gadis bawel sepertimu”
            Huft! Hanako menggembungkan pipinya sebagai tanda dia tak bisa berkata apa-apa lagi.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
            Jam 3 sore, Hiruya berjalan menuju taman umum yang sering dikunjungi semua orang. Taman yang sejuk dan membuat hati damai. Dengan tangan yang ditaruh di saku celana, Hiruya berjalan memasuki gerbang taman. Terlihat orang-orang yang sedang bersantai dibawah pohon sakura yang bermekaran.
“Apa ada pohon yang kosong?”
            Hiruya bergumam sambil memandang berkeliling mencari pohon yang kosong.
“Ada!”
            Hiruya berlari mengahmpiri pohon yang cukup besar, lalu duduk bersandar kebatang pohon. Beberapa waktu kemudian, ada suara seseorang sedang batuk dari balik pohon itu. Mendengar suara itu Hiruya kaget dan secara spontan dia terbangun dari tidur lalu cepat-cepat berdiri.
“Siapa disana?”
            Seseorang dibalik pohon itu tiba-tiba memperlihatkan mukanya yang tertutup rambut, sehingga membuat Hiruya berdiri kaku.
“Hantu”
            Bisik Hiruya dengan nada yang ketakutan.
“Kau bilang apa hah? Aku ini masih hidup,belum mati. Seenaknya saja kau bilang aku hantu”
“Singkirkan rambutmu yang gimbal itu, kau membuatku takut!”
“Haha! Cwo sok cool sedang ketakutan!”
“Rambut gimbal!”
“Berisik, aku mau tidur!”
“Jangan teriak-teriak aku tak tuli rambut gimbal!”
“Berhenti memanggilku seperti itu”
            Hiruya yang malas bertengkar dengan gadis itu akhirnya duduk dan bersandar kembali bersandar kembali ke pohon itu. Setelah bersunyi-sunyi, Hiruya memecahkan suasana hening.
“Rambut gimbal, kau sedang apa disini?”
“Kau sendiri sedang apa disini?”
“Tentu saja menghabiskan waktu dengan melakukan pekerjaan yang selalu aku kerjakan”
“Tidur maksudmu? Apa kau sering menhabiskan waktu disini?”
“Ya tentu saja, ini adalah tempat yang aku suka”
“Bagaimana pendapatmu tentang awan?”
“Hhmm bagaimana ya. Awan itu putih, selalu mengikuti angin kemanapun arah angin itu betiup. Tak tau akan pergi kemana. Sama seperti hidupku yang tak tau arah dan tujuannya. Kau tinggal sendiri?”
“Ya aku tinggal sendiri”
“Aku juga tinggal sendiri. Orang tuaku bekerja diluar negeri. Mereka pulang satu tahun sekali ketika natal tiba. Tiap bulan mereka mengirim uang untuk biaya sekolah”
“Nasib kita sama. Aku selalu merindukan kasih sayang mereka. Hahaha. Aku selalu ragu apakah mereka orang tuaku atau bukan. Jika mereka orang tuaku kenapa mereka selalu bersikap selah-olah aku tak ada”
“sabar ya Hanako, aku pun juga sama sepertimu, rindu akan kasih sayang mereka”
            Perlahan tangan Hiruya memegang pundak Hanako, memeluk tubuh hanako yang gemetar. Menyandarkan kepala Hanako ke dadanya mencoba untuk menenagkan hatinya. Pelukan itu semakin erat sehingga membuat Hanako menjadi tenang dan nyaman. Lama kelamaan mereka terlelap dalam mimpi yang indah. Mimpi yang dibuat dibawah pohon sakura yang berguguran dengan damai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar